Sore itu jalanan terasa begitu sesak, saat bajaj yang aku tumpangi sedang berhenti di perempatan lampu merah. “Ehm, lampu merahnya masih lama. Kalau begini kapan sampai di kampus, perut sudah laper nih”, kataku dalam hati yang kemudian disambut oleh bunyi perutku yang keroncongan sementara supir bajaj di depanku memperhatikan lampu lalu lintas dengan seksama. “
Tiba-tiba melintas seorang wanita di samping kiri bajaj. Sambil membawa setumpuk koran berusaha menawarkan sebuah koran sore. Pakaiannya lusuh, sehelai daster berwarna merah yang kusam. Wanita tersebut berkulit coklat terbakar matahari, tubuhnya sangat kurus. Rambutnya kusut pendek sebahu, sementara wajahnya yang juga berwarna coklat tampak sayu dengan bibir yang begitu pucat. “Jangan-jangan belum makan “, pikirku. Sesaat muncul rasa iba, kemudian ku panggil dia.
“Bu, korannya satu berapa ????”, tanyaku sambil memperhatikan koran yang dibawanya. “Tiga ribu bang ….”, jawabnya dengan mata yang sedikit berbinar. “Ooooh, ini bu kembaliannya diambil aja ….”, kataku sambil menyerahkan selembar uang lima ribuan. “Ohh terima kasih banyaaak”, katanya dengan senyum yang melebar.
Selanjutnya aku sangat kaget dengan reaksinya, sambil melambaikan uang tersebut ia tersenyum senang dan tampak sangat bahagia memanggil seorang gadis cilik yang juga berpakaian lusuh dan membawa setumpuk koran di dekat lampu lalu lintas. Gadis cilik tersebut menyambutnya dengan senyuman bahagia juga.
Sungguh pemandangan tersebut membuat hatiku terenyuh. “Luar biasa, hanya lebih dua ribu tapi dia bisa sebahagia itu”, kataku dalam hati. Diam-diam aku merasa menyesal karena hanya memberinya uang lima ribu. Hanya dua ribu perak yang disambut bagaikan sebuah kemenangan, tak terasa mataku berkaca-kaca. “Ya Allah …. Ampuni hamba-Mu yang tak pandai bersyukur atas nikmat-Mu selama ini”, batinku dalam hati.
Tak lama lampu lalu lintas berubah hijau, bajaj yang kutumpangi melintas melewati wanita tersebut. Sepanjang perjalanan aku hanya termangu, masih terheran-heran dengan kejadian tersebut. Aku jadi teringat nasehat dari ulama di televisi yang menyatakan bahwa Allah akan menambah nikmat bagi hamba-Nya yang pandai bersyukur dan salah satu wujud syukur tersebut dapat diwujudkan dengan saling berbagi terhadap sesama. Selama ini aku hanya merasa biasa-biasa saja melihat rekening tabunganku bertambah pada saat gajian. Sungguh aku termasuk orang-orang yang tidak tahu bersyukur.
Aku tersentak saat bajaj yang kutumpangi berhenti mendadak. “Huuuh, macet lagi ….”, gerutuku sambil garuk-garuk kepala. Lagi-lagi aku terjebak macet.
0 komentar:
Posting Komentar