Hidupku Bagian I

Aku dilahirkan di kota terbesar di Indonesia yaitu Jakarta. Ayahku seorang tentara dan ibu seorang ibu rumah tangga biasa yang banyak memiliki keterampilan mulai menjahit, merias wajah dan pengantin, memotong rambut, merangkai bunga, menyulam dan menata taman. Aku memiliki tiga orang kakak perempuan yang usianya terpaut jauh dariku. Kakak pertama terpaut 11 tahun, kakak kedua terpaut 10 tahun, dan kakak ketiga terpaut 8 tahun. Saat kecilku dihabiskan di komplek TNI AD di Jakarta Selatan, benar-benar menjadi suatu kenangan yang terindah.

Sahabatku Dian, Agus, Deden, Ricky, Tovel, Yudi alias Papitong, Fajar, Yuni , dan Eman. Sisanya aku lupa, maafkan aku teman. Bermain di dekat gudang peluru adalah hal biasa bagiku, memanjat pohon kecapi dan merayap-rayap dipinggiran tanah menurun yang menjadi batas pemukiman kami dan GUSANG (sampai sekarang aku tidak tahu kepanjangannya mungkin gudang senjata dan angkutan) begitu kami memanggilnya. Halaman luas yang didalamnya terdapat beberapa gudang tempat biasa kami bermain.

Hari-hariku dipenuhi dengan kebahagiaan maupun kesedihan. Kesedihan yang kualami karena penyakit yang sering menyerangku dengan tiba-tiba yaitu kejang atau STEP begitu ibuku menyebutnya. Penyakit yang kuperoleh sejak aku terjatuh dari kursi di ulang tahunku yang pertama. Bayangkan betapa sedihnya kedua orangtuaku saat dokter mengatakan bahwa ada kemungkinan aku akan menjadi orang bodoh. Anak laki-laki satu-satunya yang diharapkan dan diprogram dengan melakukan KB selama 8 tahun sesuai saran dokter kandungan dan tentunya doa orangtuaku yang tidak pernah putus siang dan malam, harus mengalami kenyataan yang pastinya tidak diinginkan oleh semua orangtua. Setiap kejang ayahku harus memasukkan sendok ke dalam mulutku agar lidahku tidak tergigit, hingga suatu waktu terpaksa ayahku memasukkan jempolnya ke dalam mulutku hingga jarinya nyaris putus. Mungkin karena sering menggigit sendok membuat bentuk gigiku menjadi berantakan.

Tak hanya kejang saat panas tinggi ternyata aku juga dihinggapi penyakit yang disebut paru-paru basah. Sebuah penyakit yang membuatku sering terserang flu khususnya pilek yang kuperoleh karena kebiasaanku tidur di depan pintu rumah waktu malam dan aku tidur tanpa alas di lantai rumahku yang terbuat dari semen. Setiap di pindahkan ke dalam kamar pasti aku pindah lagi dan aku tak tahu kenapa demikian. Kebiasaan tidur di depan pintu baru berhenti setelah pada suatu malam aku bermimpi tentang Drakula yang membuatku ketakutan.

Karena penyakitan aku digelari anak Dollar oleh ibuku, karena banyak menghabiskan uang untuk berobat. Tidak tahu sudah berapa banyak antibiotik yang aku telan ehm sebenarnya aku minum pake sendok karena aku tidak bisa menelan obat. Pahitnya bukan main.

Ada yang bilang aku penyakitan karena keberatan nama, jadi oleh nenekku aku diberi nama panggilan HELMI .... belum lagi adat kampung duduk dimana aku harus duduk di atas nyiru berisi beras trus dibeli oleh bibiku seribu rupiah sebagai anaknya he he .... ada-ada aja nih adat ....

Saat usia 4 tahun aku masuk sekolah TK kelas nol kecil di TK Budi Dharma dekat rumahku dan sejak saat itu penyakit STEPku hilang. Saat-saat sekolah di TK merupakan saat yang sangat menyenangkan dan aku merupakan seorang anak yang nakal suka mengganggu teman-temanku he he buktinya diraporku hanya nilai untuk tingkah laku yang cukup semuanya baik. Di TK teman akrabku adalah Dian yang ibunya merupakan guru dan tetanggaku. Aku pernah juara menggambar harapan I akan tetapi hadiahku lebih besar dibandingkan yang juara I he he mungkin salah kasih.

Saat TK ada satu hal yang aku paling ingat, cinta pertamaku .... Novi namanya he he kemana ya dia sekarang .... seorang gadis manis berambut pendek .... klo nggak salah rumahnya di daerah tanah kusir .... ehm lupa ....

Waktu pun berlalu, setelah ayahku pensiun kami sekeluarga pindah ke Pontianak saat aku duduk di kelas 3 SD. Akhirnya harus kutinggalkan Jakarta yang masih sepi, pasar Mayestik, Mesjid At Taqwa, dan teman-temanku, sekolahku SDN 09 pagi, dan kucingku si Bule yang aku titipkan ke Agus temanku di depan rumah.

Sesampainya di Pontianak kami menempati rumah baru kami yang memang sudah lama disiapkan dan dijaga oleh pamanku. Pamanku yang kusebut Pak Long (paman tertua dari keluarga ibuku) tinggal disebelah rumahku dan juga bibiku yang kusebut Mak De (bibiku yang lebih muda dari ibuku). Dari keluarga ibuku aku memiliki 3 orang paman dan 5 orang bibi, yaitu Pak Long, Pak Uning, Mak Ngah, Mak Anda, Mak Anjang, Mak Mok, Mak De, dan Pak Usu sedangkan ibuku di panggil Mak Cik. Dari keluarga ayahku aku tidak terlalu ingat karena memang jarang berikomunikasi yang ku tahu hanya Pak Long, Mak Ngah, dan Pak De Yan.

Keluarga kami dari keturunan Nek Aki Sirat dan Nek Wan Kebal (aku masih belum tahu kenapa nenekku di panggil Nek Wan Kebal apakah karena buyutku adalah dukun sementara buyutku dari Nek Aki Sirat adalah seorang kepala dusun).

Aku tumbuh dan besar di Pontianak, ibu kota Kalimantan Barat tepatnya di daerah Siantan Hilir, Pontianak Utara, yang kadang disebut daerah seberang oleh orang-orang yang tinggal di Pontianak Barat dan Selatan begitu juga kami sebaliknya menyebut mereka daerah seberang, sedangkan Pontianak Timur biasa kami sebut kampong tengah karena berada di perpotongan dua sungai yaitu sungai Kapuas dan Landak. Dua buah sungai yang membelah kota Pontianak menjadi 3 bagian.

Kisah selanjutnya merupakan kisah yang akan menceritakan kehidupan sekolahku dari SD hingga SMA. Pada bagian ketiga dari cerita ini akan mengisahkan kehidupanku saat kuliah dan kerja.

0 komentar:

Posting Komentar

;