Hari ini aku baru saja membunuh seekor kecoa yang mungkin saja berusaha menyapaku, namun tentu saja aku tak menyambut sapaannya. Dengan secepat kilat kutangkap dia dengan tangan kananku, salah satu tangan tercepat di dunia. Setelah berhasil menangkap kecoa itu dengan sigap kuremas tubuhnya hingga hancur berkeping-keping. Tamatlah riwayat yang lemah, mati ditangan yang lebih kuat darinya. Sebuah pembuktian hukum alam bahwa yang kuat menghancurkan yang lemah.
Saat kulihat tubuh kecoa yang hancur di telapak tanganku, aku jadi berpikir apakah yang lemah tidak punya kesempatan mengalahkan yang kuat. Lalu aku teringat bahwa sebatang lidi sangat mudah untuk dipatahkan sedangkan jika dikumpulkan maka akan lebih sulit dipatahkan. Jadi membayangkan bagaimana jika aku menghadapi sepuluh ribu kecoa. Sepertinya aku masih sangggup menghancurkan mereka walaupun tidak semua, karena bagaimana pun mereka merupakan hanya kumpulan kecoa.
Ada yang bilang dua orang penakut yang berkumpul akan menjadi dua orang yang pemberani. Aku tidak begitu setuju dengan hal itu. Bahkan seribu orang penakut berkumpul tetaplah kumpulan orang penakut, bukan kumpulan orang yang berani. Lalu bagaimana mungkin yang lemah dapat mengalahkan yang kuat, jika dengan berkumpulnya orang-orang lemah tidak membuatnya kuat. Ada satu syarat agar mereka dapat menjadi kuat yaitu harus ada pemimpin yang menggerakkan hati mereka. Benar, pemimpin yang memiliki semangat dan mempunyai kemampuan untuk menularkan semangatnya kepada orang lain. Sanggup mengubah kumpulan orang yang penakut menjadi kumpulan orang-orang pemberani.
Aku sangat sedih saat saudara sebangsa disiksa di negeri tetangga tanpa kita mampu meminta pertanggungjawaban, bagaimana negeri tetangga melindungi para penjahat dari negeri kita dan bebas berkeliaran menikmati harta hasil rampokan, bagaimana hutan di negeri kita dibabat habis kemudian kayunya diselundupkan ke negeri tetangga dan dijual mahal di luar negeri dengan harga yang sangat mahal dan diberikan label legal, sementara saat hutan kita terbakar mereka dengan mudahnya protes karena asap kebakaran hutan mengganggu negeri mereka. Bumi kita digali dan dirusak untuk diambil emas dan barang berharga lainnya, sementara manfaat yang kita terima tidak melebihi kerusakan yang ada dan tidak dapat membuat negeri ini menjadi lebih sejahtera.
Lalu kenapa itu semua bisa terjadi, apakah karena kira lemah, aku tidak tahu. Negeri yang kuat adalah negeri yang memiliki pemimpin yang mampu menggerakkan rakyatnya. Sebagaimana dulu negeri ini berjuang melawan penjajah, demi sebuah kemerdekaan. Mungkin setelah merdeka kita lupa bahwa penindasan tidak akan berhenti begitu saja saat kemerdekaan dapat kita rengkuh. Penindasan akan terus berlanjut saat kita lengah dan menjadi negeri yang lemah.
Negeri ini merindukan seorang pemimpin, yang mampu menggerakkan kembali seluruh rakyat untuk bersatu dan menjadi kuat. Kuat dalam segala hal, untuk berdiri tegak bersama negeri-negeri lain. Semoga negeri ini dikaruniai para pemimpin pemberani yang dapat menggerakkan seluruh rakyat agar negeri ini menjadi kuat.
Jangan salahkan yang kuat karena menindas yang lemah. Akan tetapi jadilah kuat agar jangan menjadi pihak yang ditindas.
Saat kulihat tubuh kecoa yang hancur di telapak tanganku, aku jadi berpikir apakah yang lemah tidak punya kesempatan mengalahkan yang kuat. Lalu aku teringat bahwa sebatang lidi sangat mudah untuk dipatahkan sedangkan jika dikumpulkan maka akan lebih sulit dipatahkan. Jadi membayangkan bagaimana jika aku menghadapi sepuluh ribu kecoa. Sepertinya aku masih sangggup menghancurkan mereka walaupun tidak semua, karena bagaimana pun mereka merupakan hanya kumpulan kecoa.
Ada yang bilang dua orang penakut yang berkumpul akan menjadi dua orang yang pemberani. Aku tidak begitu setuju dengan hal itu. Bahkan seribu orang penakut berkumpul tetaplah kumpulan orang penakut, bukan kumpulan orang yang berani. Lalu bagaimana mungkin yang lemah dapat mengalahkan yang kuat, jika dengan berkumpulnya orang-orang lemah tidak membuatnya kuat. Ada satu syarat agar mereka dapat menjadi kuat yaitu harus ada pemimpin yang menggerakkan hati mereka. Benar, pemimpin yang memiliki semangat dan mempunyai kemampuan untuk menularkan semangatnya kepada orang lain. Sanggup mengubah kumpulan orang yang penakut menjadi kumpulan orang-orang pemberani.
Aku sangat sedih saat saudara sebangsa disiksa di negeri tetangga tanpa kita mampu meminta pertanggungjawaban, bagaimana negeri tetangga melindungi para penjahat dari negeri kita dan bebas berkeliaran menikmati harta hasil rampokan, bagaimana hutan di negeri kita dibabat habis kemudian kayunya diselundupkan ke negeri tetangga dan dijual mahal di luar negeri dengan harga yang sangat mahal dan diberikan label legal, sementara saat hutan kita terbakar mereka dengan mudahnya protes karena asap kebakaran hutan mengganggu negeri mereka. Bumi kita digali dan dirusak untuk diambil emas dan barang berharga lainnya, sementara manfaat yang kita terima tidak melebihi kerusakan yang ada dan tidak dapat membuat negeri ini menjadi lebih sejahtera.
Lalu kenapa itu semua bisa terjadi, apakah karena kira lemah, aku tidak tahu. Negeri yang kuat adalah negeri yang memiliki pemimpin yang mampu menggerakkan rakyatnya. Sebagaimana dulu negeri ini berjuang melawan penjajah, demi sebuah kemerdekaan. Mungkin setelah merdeka kita lupa bahwa penindasan tidak akan berhenti begitu saja saat kemerdekaan dapat kita rengkuh. Penindasan akan terus berlanjut saat kita lengah dan menjadi negeri yang lemah.
Negeri ini merindukan seorang pemimpin, yang mampu menggerakkan kembali seluruh rakyat untuk bersatu dan menjadi kuat. Kuat dalam segala hal, untuk berdiri tegak bersama negeri-negeri lain. Semoga negeri ini dikaruniai para pemimpin pemberani yang dapat menggerakkan seluruh rakyat agar negeri ini menjadi kuat.
Jangan salahkan yang kuat karena menindas yang lemah. Akan tetapi jadilah kuat agar jangan menjadi pihak yang ditindas.
0 komentar:
Posting Komentar