Pagi Berdarah (Minggu, 18 April 2010)

“Pak, pak …. cepetan …. orangnya geger otak nih …. “ teriakku kepada seorang petugas polisi. Dengan tergopoh-gopoh ia mendekati seorang pengendara sepeda yang tergeletak di jalan dalam posisi tengkurap. Darah mengucur deras dari kepalanya, sementara tubuhnya bergetar. Itulah sekilas peristiwa berdarah di pagi hari di jln. M.H. Thamrin pada hari minggu tanggal 18 April 2010.


Aku terbangun sekitar pukul lima pagi, segera ku mengambil wudhu dan sholat subuh. Setelah berdoa, ku hidupkan laptopku yang masih tergeletak di lantai. Sambil menunggu proses loading, ku sempatkan diri untuk melakukan sit up sebanyak seratus kali. Seperti biasa aku membuka facebook dan update status menjadi “Memulai hari dengan berdoa selanjutnya berolahraga, hati sehat badan pun jadi kuat“. Selanjutnya aku berganti pakaian untuk jalan pagi ke jln. M.H. Thamrin , rute yang belum pernah ku lalui karena biasanya hanya jalan pagi ke monas.


Saat akan keluar pada pukul setengah enam, aku mendapat sambutan dari kucing anggora berwarna abu-abu, dia mengucapkan salam tentunya dalam bahasa kucing dan aku membalasnya dengan bahasa kucing juga he he he. Aku juga bertemu dengan Mbak Tini, pengurus rumah kos. Setelah mengucapkan selamat pagi kepada Mbak Tini segera ku mulai perjalanan.


Perjalananku dimulai dari jl. A.R. Saleh Raya, kemudian melintasi jl. Prapatan. Saat lewat di depan kantor Aerowisata ku sempatkan membeli sebotol air mineral karena ku pikir perjalanan kali ini akan cukup melelahkan. Selanjutnya aku melewati tugu pak tani, dan terus berjalan lurus melintasi jl. Kebon sirih dan rencananya akan melintasi jl. Sabang. Ternyata aku tersesat, seharusnya belok kiri akan tetapi aku jalan lurus ke depan. “He he he nyasar lagi nyasar lagi”, begitu pikirku. Sampai di ujung jalan, aku belok ke kiri di perempatan lampu merah.


Tanpa kusadari aku telah sampai di depan hotel Sari Pan Pasific. “Lho kok sampai disini ????, pikirku lugu. “Berarti nggak nyasar donk, di depan pasti Sarinah”, dengan semangat ku lanjutkan perjalananku. “Horeee, Sarinaaah”, aku berteriak girang dalam hati. Ku teguk sedikit air mineral yang labelnya sudah ku buang.


Gedung demi gedung ku lalui, hingga akhirnya aku sampai di gedung Indofood pada pukul tujuh kurang lima belas menit. Aku memutar jalur di sebelah kanan untuk kembali pulang. Samapi disitu semuanya berjalan lancer dan menyenangkan. Banyak sekali orang yang berolahraga, jalan kaki, naik sepeda, bulutangkis dan sepatu roda. Yang menarik adalah pengendara sepeda yang menggunakan sepeda yang sangat tinggi sekitar dua meter dan menggukan kostum penyihir sehingga seperti sedang terbang. Ada juga bule yang menggunakan sepatu roda dengan alat bantu tongkat ski, mungkin dia orang Swiss yang suka main ski di gunung Alpen. Belum lagi pedagang makanan, pedagang kostum olahraga khususnya bagi pengendara sepeda. Suasana yang menyenangkan, seandainya Jakarta seperti ini setiap hari.


Sekitar 150 meter dari Grand Indonesia, seorang pengendara sepeda melintas kencang melewatiku. Aku tidak tahu bagaimana awal kejadiannya, ku lihat pengendara sepeda tersebut menabrak seorang pejalan kaki yang menggunakan kaos hitam. Pengendara sepeda itu jatuh, lalu badannya bergetar seperti kejang-kejang. Darah mengali dari kepalanya, “Wah geger otak tuh orang”, begitu pikirku. Serta merta aku berlari menghampiri sambil berteriak-teriak kepada petugas polisi yang ada di depan. Seorang wanita yang mengendari sepeda menoleh, akibatnya dia pun terjatuh dan pengendara sepeda di belakangnya langsung menabrak dan terjatuh pula, akan tetapi keduanya tidak terluka sedikit pun. Selanjutkan kejadiannya seperti yang telah ku ceritakan di awal kisah ini.


“Pak, pak …. cepetan …. orangnya geger otak nih …. “ teriakku kepada seorang petugas polisi. Dengan tergopoh-gopoh ia mendekati seorang pengendara sepeda yang tergeletak di jalan dalam posisi tengkurap. Darah mengucur deras dari kepalanya, sementara tubuhnya bergetar. Saat itu banyak orang yang berkumpul setelah mendengar teriakanku, ada yang segera membantu dengan mengangkat dan membaringkan sanga pengendara sepeda. Ternyata darah mengucur dari hidungnya. “Syukurlah, berarti nggak geger otak”, begitu pikirku saat itu.


Petugas polisi tampak kebingungan karena tidak dilengkapi dengan alat komunikasi, sementara wanita pengendara sepeda yang juga terjatuh menangis, mungkin istri atau keluarga pengendara sepeda yang tergeletak lemah. “Pak, stop mobil donk”, aku berteriak kepada petugas polisi yang kebingungan. Segera dia mencari taksi yang lewat, sialnya banyak taksi yang berpenumpang. “Kok gitu, kenapa taksi ????, kenapa tidak stop mobil pribadi saja ????, begitu pikirku. Kejadian itu tidak seperti film-film action yang sering ku tonton, bagaimana petugas polisi saat keadaan genting dapat mengambil kendaraan orang lain. Mungkin itu hanya dalam film, dan biasanya di film semuanya terjadi saat petugas polisi mengejar penjahat. Berarti menangkap penjahat lebih penting dari pada menyelamatkan nyawa, seperti slogan yang menyatakan lebih baik kehilangan beberapa nyawa orang yang tidak bersalah dari pada melepaskan seorang penjahat yang sadis karena bisa saja membunuh lebih banyak orang lagi, atau aku yang terlalu panik melihat kondisi pengendara sepeda tersebut.


Sementara petugas polisi berusaha mencari taksi, aku berusaha membantunya dengan mengatur orang-orang yang mulai berkumpul. “Ayo, jangan berkerumun. Nanti taksinya nggak bisa lewat”, kataku kepada orang-orang sambil memberikan aba-aba dengan tangan persis seperti petugas polisi lalu lintas. Akhirnya taksi dapat diperoleh, dua orang membantuku mengangkat pengendara sepeda yang setengah sadar. Aku memegang kakinya dan satu orang memegang kepalanya, sedangkan seorang lagi di dalam taksi menyambut bagian kepala. Setelah pengendara sepeda tersebut berada dalam taksi, kusarankan agar wanita yang mungkin saja istrinya itu untuk masuk ke dalam taksi. “Waduh gimana ini, saya nggak bawa apa-apa, trus sepedanya gimana ????”, tanyanya bingung. “Sudah bu, sepedanya nanti ambil aja di pos sebelah sana”, kata petugas polisi sambil menunjuk pos polisi.


“Ibu punya uang ????”, tanyaku. “Nggak bawa”, katanya lesu. Aku memutuskan untuk ikut, tetapi bingung karena taksinya sudah penuh. Akhirnya taksi pun pergi, katanya mau ke rumah sakit Jakarta, aku tidak begitu jelas dimana rumah sakit itu berada. Banyak yang bertanya pada ku apakah pengendara sepeda ditabrak, “Nggak pak, dia tadi nabrak pejalan kaki”, jawabku. “Mana pejalan kakinya”, tanyanya. “Udah nggak ada pak, kabur kali ya. Mungkin ketakutan”, jawabku lagi.


Sepanjang perjalanan pulang aku terus memikirkan kejadian tadi, akhirnya aku berkesimpulan bahwa dalam melakukan apapun dan dimana pun bahkan berolahraga kita harus tetap berhati-hati. Dan jangan lupa membawa alat komunikasi dan tentu saja dompet anda. Karena kita tidak tahu apa yang akan terjadi. Akhirnya aku sampai di depan warung nasi di jln. Prapatan dan segera masuk untuk mengambil hadiahku, sepiring nasi dengan lauk, telur, ikan mas, tempe, dan tahu sebagai hadiah atas usahaku berolahraga pagi ini.

0 komentar:

Posting Komentar

;