Ayahku seorang purnawirawan TNI AD, sebagaimana layaknya mantan tentara, tetap gagah dimasa tuanya. Ia sering menyampaikan harapannya kepadaku sejak aku kecil, dan yang paling aku ingat adalah saat ia berkata, “Aku ingin naik haji dengan bantuanmu”. Kata-kata itu terus terngiang hingga aku dewasa. Dia selalu percaya bahwa aku akan jadi orang sukses, tidak seperti ibuku yang selalu mengkhawatirkan nasibku di masa depan.
Naik haji, ya itulah kalimat yang selalu aku usahakan bagi kedua orang tuaku sebagai hadiah dan tanda cintaku kepada mereka. Saat-saat itu sepertinya akan terwujud pada tahun 2005 modernisasi di tempatku bekerja semakin diperluas, dengan penuh semangat aku ikut mendaftar. Setelah melalui serangkaian tes aku dinyatakan lulus dan ditempatkan di Batam. Banyak teman yangg bertanya untuk apa aku ikut modernisasi sehingga harus pindah dari Pontianak. Aku hanya menjawab, “Aku ingin melihat seberapa jauh aku melangkah”. Dalam hati aku berkata, “Tunggulah, sebentar lagi kalian akan naik haji”.
Modernisasi yang aku ikuti baru di terapkan di Pontianak beberapa tahun kemudian. Modernisasi tersebut juga menyebabkan penghasilanku meningkat, oleh karena itu aku berharap dapat menabung untuk kedua orang tuaku naik haji.
Belum lama aku berada di Batam terdengar kabar buruk dari kakakku yang tinggal di wilayah Bojongkulur, ia memberitahukan Ayahku sakit parah karena pembuluh darah diotaknya pecah. Kemudian aku menemui ayahku yang dirawat di rumah sakit kepolisian di daerah kramat jati atas bantuan abang iparku yang seorang polisi. Di rumah sakit telah berkumpul ibu, dan ketiga kakakku yang semuanya menunjukkan wajah yang penuh kekhawatiran. Saat berada disana aku menemukan ayahku yang sudah sadar akan tetapi tidak mengenaliku, ia berucap beberapa kalimat dalam bahasa daerah yang aku tidak mengerti. Ibuku sangat khawatir, karena ayah tidak pernah berbicara dalam bahasa daerah di rumah. Sepertinya penyakit ayahku sangat parah, begitu pikirku. Namun, aku selalu yakin Allah akan menyembuhkan ayahku.
Kakakku yang ketiga bertanya, “Kok kamu nggak keliatan khawatir sih ….”. Sambil menatapnya dengan tenang aku menjawab,”Tenang, bapak pasti sembuh kok ….”. Waktu itu aku sangat yakin bahwa Allah akan menyelematkan ayahku, karena aku sudah bertekad untuk memberangkatkannya bersama ibuku ke Mekkah. Tak sedikit pun terbersit dalam pikiranku bahwa ayahku akan meninggalkan kami semua.
Setelah beberapa hari berada di rumah sakit, aku kembali ke Batam tanpa ada perasaan khawatir karena aku selalu yakin bahwa Allah akan menjaga ayahku. Baru satu atau dua hari, aku lupa tepatnya, kakakku yang ketiga menelpon dan mengatakan, “Dek, maapin bapak ya ….”. Setelah itu dia menangis dan melanjutkan kalimatnya “Bapak meninggal dek …..”. Kalimat terakhir membuatku termangu dalam kamarku, bathinku tersentak. Aku sangat sedih, tetapi bukan sedih karena wafatnya ayahku. Bukan, sekali lagi bukan. Aku sedih karena cita-citaku mewujudkan keinginan ayah untuk naik haji sirna dan memberinya menantu perempuan dan cucu dari keturunanku. Ayahku sudah memiliki tiga menantu dan enam orang cucu dari ketiga anak perempuannya. Namun, ayah selalu berharap dariku. Mungkin karena dia termasuk penganut paham “keturunan dilanjutkan dari anak laki-laki”.
Pasti kalian bertanya mengapa aku tidak bersedih atas wafatnya ayahku dan menganggap aku anak yang durhaka. Aku tidak tahu apa aku anak yang durhaka atau tidak, bagiku kehidupan dan kematian adalah hal yang biasa. Manusia lahir dan menjalani kehidupan lalu mati, yang membedakan kita satu sama lain adalah apa yang kita lakukan saat masih hidup. Temanku pernah bertanya, “Kenapa kamu nggak sedih, padahal baru kehilangan ayahmu.” Aku menjawab, “Apakah ayahku akan senang jika melihat aku bersedih. Yang penting bagaimana aku dapat membela nama baiknya dan melindungi ibuku".
Setelah ayah wafat ibuku tinggal sendiri di rumah, oleh karena itu aku berusaha membujuk keluargaku agar mau tinggal bersama ibuku. Kebetulan dia setuju, karena akan kuliah sambil bekerja dengan ibuku sebagai asistennya. Kebetulan ibuku punya usaha tata rias pengantin. Hanya ibuku, hartaku yang paling berharga.
Saat teman-teman liburan ke Singapura, aku lebih memilih liburan ke Pontianak mengunjungi ibuku. Saat ditanya temanku kenapa tidak mau ke Singapura, aku selalu menjawab, “ Mana lebih mahal liburan ke Singapura atau ke Pontianak ?”. Jawaban yang membuat mereka kesal, tentu saja bukan itu alasannya.
Tak selang berapa lama ada kabar dari ibuku bahwa ada cara agar ayahku tetap naik haji, yaitu dengan mendanai sesorang yang sudah naik haji (tidak dijelaskan siapa) untuk berhaji atas nama ayahku. Tanpa pikir panjang apakah cara seperti itu benar atau tidak, aku langsung mengiyakan karena aku berharap hal tersebut sebagai penebus kegagalanku memberangkatkan ayahku ke Mekkah. Setelah lebaran haji lewat dan para jemaah kembali ke tanah air, ibuku mendapatkan sertifikat atas nama ayahku yang menunjukkan ayahku sudah naik haji. Lagi-lagi aku tidak ambil pusing dengan hal tersebut, bagiku ayah sudah menunaikan haji itu saja.
Setahun kemudian telah tersedia dana yang cukup untuk memberangkatkan ibuku naik haji, temanku menyarankan agar aku menemani ibuku naik haji. Aku hanya tertegun, karena dana tersebut hanya cukup untuk memberangkatkan satu orang itupun hanya ONH biasa. Masalah muncul karena ternyata ibuku terlambat mendaftar sehingga tidak mendapatkan nomor keberangkatan. Namun atas kebesaran Allah ibuku jadi juga berangkat ke tanah suci.
Ibuku berangkat dengan temannya yang juga seorang janda serta sepasang suami istri yang merupakan tetanggaku. Kebetulan tempat keberangkatannya di Batam, sehingga aku bisa menjenguknya sebentar walaupun hanya sempat mengisikan pulsa HPnya saja. Kebetulan sebelum keberangkatan calon jemaah haji tidak diijinkan dijenguk dan keluar.
Saat ibuku masih di tanah suci, kakak ketigaku sibuk mencari oleh-oleh haji di Tanah Abang agar ibuku fokus beribadah tanpa memikirkan oleh-oleh. Ibuku kembali ke tanah air melalui Bandara Hang Nadim, Batam. Kesempatan satu malam sebelum pulang ke Pontianak, aku gunakan untuk membawa ibuku mengunjungi Mall Nagoya Hill dan tempat kos-ku, di Rumah Susun Bumi Lancang Kuning, Batu Ampar, Batam.
Begitulah, sekarang hanya tinggal ibuku tempatku berbakti karena ayah telah tiada. Pernah suatu ketika aku mendengarkan ceramah di televisi bahwa keluarga kita yang telah wafat menunggu kita mendoakannya selesai kita sholat. Mendengar ini aku langsung menangis, karena aku sering lupa mendoakan ayahku. Bahkan aku menulis sebuah puisi untuk mencurahkah rasa penyesalanku ....
Maafkan aku yang selalu lupa
Menyebut mu dalam setiap doaku
Melupakan mu dalam setiap waktuku
Tak perdulikan semua nasehatmu
Tuhan ampunilah hambaMu ini
HambaMu yang sering kali lupa
Mengabaikan dia yang menyayangi ku
Melupakan dia yang mengasihi ku
Tuhan kupanjatkan doa pada Mu
Dengan dua tangan menengadah
Doa untuk dia yang menyayangi ku
Doa untuk dia yang mengasihi ku
Ampunilah segala dosa-dosanya
Berikanlah dia perlindunganmu
Jauhkan dia dari azab dan siksaMu
Tempatkanlah dia di surgaMu
Amiiiin ….
Sejak saat itu aku tidak lupa berdoa untuk keduanya, doa yang begitu dalam disertai derai air mata. Mungkin kalian akan mengatakan bahwa aku cengeng, aku tak peduli. Yang pasti aku menyayangi kedua orang tuaku.
Aku bertekad membahagiakan ibuku, hartaku satu-satunya yang paling berharga.
Aku ingat dia selalu bercerita bahwa saat mengandungku dia ngidam kurma dan menyelesaikan banyak tersisa tiga yaitu yang bergambar bunga mawar, kastil, dan dua bocah laki-laki dan perempuan yang saat aku kecil selalu kuanggap bahwa aku bocah laki-laki tersebut. Lalu siapa bocah perempuannya, aku belum tahu.
Mamah Dedeh pernah berkata, “Anak perempuan akan menjadi milik suaminya jika ia sudah menikah, akan tetapi anak laki-laki tetap akan menjadi milik ibunya walaupun dia sudah menikah”. Kalimat itu tertanam dalam di benakku , ya aku akan berusa melakukan yang terbaik bagi ibuku.
Ibuku seorang ibu rumah tangga dan seorang wiraswasta yang gigih walaupun tidak mengenyam pendidikan yang tinggi namun selalu berusaha menekuni keterampilan seperti menjahit dan tata rias pengantin. Ia selalu memliki cita-cita dan harapan yang tinggi padaku, walaupun kadang aku merasa heran kenapa selalu aku, kenapa bukan ketiga kakakku. Mungkin jawabannya klasik karena aku anak laki-laki satu-satunya.
Kalimatnya yang paling aku ingat adalah saat mengatakan, “Ibu pasti bangga ngeliat kamu kerja di disana”. Saat itu dia berusaha membujukku berhenti kerja dari tempat bekerjaku yang pertama karena sering pulang malam, kemudian mendaftar di tempatku bekerja sekarang.
Sebenarnya aku sangat suka bekerja ditempat kerjaku yang lama, mungkin karena merupakan tempat kerjaku yang pertama. Walaupun gaji yang kuterima tidak besar, namun aku bahagia dengan pekerjaan tersebut. Bahkan bujuk rayu dari ketiga kakakku tidak sedikit pun menggoyahkan pendirianku. Namun, satu kalimat dari ibuku bisa mengubah semuanya. Hanya satu kalimat, kalimat pengharapan dari ibuku.
Setelah mengiyakan keinginan ibuku, aku mendaftar pekerjaan di tempat baru dengan segera mungkin membuat surat pernyataan pengunduran diri dari tempatku bekerja. Saat itu ayahku masih hidup, ia tak pernah mendesakku untuk pindah kerja karena ia selalu yakin padaku. Tidak seperti ibuku yang selalu mengkhawatirkan nasib pangeran kecilnya.
Tahap demi tahap ku lalui, setiap tahap yang kulalui selalu menambah beban dihatiku bahwa aku harus lulus. Setiap tahap yang kulalui menambah besar harapan orang tuaku terutama ibuku dan hal tersebut seperti gunung yang menghimpit pundakku. Saat pengumuman terakhir tiba, tak lama kakakku yang pertama menelpon dan berkata, “Dek, loe nggak lulus ….”. Sebuah palu godam menghantam kepalaku, jantungku berdebar dan dalam hati aku berkata,”Alamak, matiii aku”.
Tak terbayang bagimana perasaanku saat itu, tiba-tiba kakakku melanjutkan kalimatnya, “Nggak, cuma becanda. Lulus kok ….”. Dasar kakakku, becandanya kebangetan banget. Tak lama kakak ketigaku menelpon memberitakan kelulusanku dengan suara yang penuh ceria dan menceritakan bahwa sejak subuh ayahku (saat itu berada di rumah kakakku di Bojongkulur) sudah sibuk mencari koran untuk melihat pengumuman. Hanya satu kalimat yang ayahku ucapkan, “Aku sih memang yakin kalo dia lulus”. Ibuku hanya mengucapkan bahwa ia bangga padaku, sedangkan kakak keduaku tersenyum bangga sambil berkata bahwa aku lulus berkat doanya, mungkin dia ada benarnya. Yang pasti kelulusanku disambut kegembiraan kami sekeluarga.
Setelah banyak kejadian masih tersisa harapan dari kedua orang tuaku yang belum dapat aku penuhi, yaitu seorang menantu perempuan dan cucu dari keturunanku. Banyak teman yang berkata aku terlalu pemilih terlalu pemalu dan sebagainya. Sebenarnya hanya satu alasan dari semua itu, aku ingin seorang istri pendamping hidup pilihan orang tuaku, khususnya ibuku.
Ayah tidak pernah mendesakku mengenai jodoh, berbeda dengan ibuku yang selalu menasehatiku mengenai hal yang satu ini. Ditambah dengan kompaknya kakak-kakakku yang menasehati adik laki-laki satu-satunya, karena mereka tidak ingin dengan masuknya satu anggota perempuan dalam keluarga akan merusak kebahagiaan keluarga.
Walaupun kadang aku pikir sedikit tidak adil, karena aku tidak pernah sedikit pun ikut campur saat mereka memilih suami. Ibuku memang selalu memberikanku pilihan, namun sifatnya tidak memaksa. Saat menonton film Get Married, aku sampai membayangkan bagaiman ibuku mencarikan jodoh buatku, apakah seperti dalam film tersebut.
Pasti kalian akan menyebutku “anak mami” setelah membaca hal ini, aku tak perduli. Bahkan aku bangga jika disebut demikian karena bagiku “anak mami” adalah anak yang sayang kepada ibunya. Walaupun sangat sayang kepada ibuku, aku tetaplah orang yang selalu cuek, sangat jarang aku menelpon ibuku. Saat melihat seorang ibu yang membawa anak laki-lakinya, aku teringat ibuku dan hal tersebut membuat mataku berkaca-kaca. Lagi-lagi aku menangis, sungguh anak yang cengeng.
Sebuah puisi kutulis untuk mengabadikan momen tersebut ....
Saat berbuka kulihat seorang ibu menggandeng kedua anaknya
Tubuhnya kecil sedikit kurus dengan pakaian yang sedikit lusuh
Kegembiraan terpancar saat bersenda gurau dengan anak-anaknya
Aku tersenyum melihatnya, luar biasa pikirku ….
Aku jadi teringat ibuku .…
Kuhitung seberapa sering aku mengingat ibuku, sungguh aku anak yang durhaka
Jarang sekali aku menelpon menanyakan keadaannya
Ibukulah yang sering menelpon menanyakan keadaanku
Saat pertama aku pergi merantau ….
Ibuku sering menangis mengkhawatirkan diriku ….
Sedangkan aku hanya asyik-asyikan menjalani kehidupan baruku ….
Maafkanlah aku ibu, maafkanlah anakmu ini ….
Tak terasa air mata berlinang di kedua pipiku ….
Cengeng ya, mungkin memang aku seperti itu
Kuingat-ingat lagi semakin banyak kerutan di wajah ibuku
Mungkin disebabkan karena sering mengkhawatirkan aku ….
Terima kasih ibu, atas semua kebaikan dan doamu ….
Maafkan aku yang belum bisa memenuhi semua harapanmu ….
Mungkin aku bukan anak yang baik, tapi aku akan berusaha sekuat tenaga membahagiakan ibuku dan membuat ayahku bangga di alam sana. Akulah bukti cinta kalian, dan akan kubuktikan cintaku kepada kalian.
Naik haji, ya itulah kalimat yang selalu aku usahakan bagi kedua orang tuaku sebagai hadiah dan tanda cintaku kepada mereka. Saat-saat itu sepertinya akan terwujud pada tahun 2005 modernisasi di tempatku bekerja semakin diperluas, dengan penuh semangat aku ikut mendaftar. Setelah melalui serangkaian tes aku dinyatakan lulus dan ditempatkan di Batam. Banyak teman yangg bertanya untuk apa aku ikut modernisasi sehingga harus pindah dari Pontianak. Aku hanya menjawab, “Aku ingin melihat seberapa jauh aku melangkah”. Dalam hati aku berkata, “Tunggulah, sebentar lagi kalian akan naik haji”.
Modernisasi yang aku ikuti baru di terapkan di Pontianak beberapa tahun kemudian. Modernisasi tersebut juga menyebabkan penghasilanku meningkat, oleh karena itu aku berharap dapat menabung untuk kedua orang tuaku naik haji.
Belum lama aku berada di Batam terdengar kabar buruk dari kakakku yang tinggal di wilayah Bojongkulur, ia memberitahukan Ayahku sakit parah karena pembuluh darah diotaknya pecah. Kemudian aku menemui ayahku yang dirawat di rumah sakit kepolisian di daerah kramat jati atas bantuan abang iparku yang seorang polisi. Di rumah sakit telah berkumpul ibu, dan ketiga kakakku yang semuanya menunjukkan wajah yang penuh kekhawatiran. Saat berada disana aku menemukan ayahku yang sudah sadar akan tetapi tidak mengenaliku, ia berucap beberapa kalimat dalam bahasa daerah yang aku tidak mengerti. Ibuku sangat khawatir, karena ayah tidak pernah berbicara dalam bahasa daerah di rumah. Sepertinya penyakit ayahku sangat parah, begitu pikirku. Namun, aku selalu yakin Allah akan menyembuhkan ayahku.
Kakakku yang ketiga bertanya, “Kok kamu nggak keliatan khawatir sih ….”. Sambil menatapnya dengan tenang aku menjawab,”Tenang, bapak pasti sembuh kok ….”. Waktu itu aku sangat yakin bahwa Allah akan menyelematkan ayahku, karena aku sudah bertekad untuk memberangkatkannya bersama ibuku ke Mekkah. Tak sedikit pun terbersit dalam pikiranku bahwa ayahku akan meninggalkan kami semua.
Setelah beberapa hari berada di rumah sakit, aku kembali ke Batam tanpa ada perasaan khawatir karena aku selalu yakin bahwa Allah akan menjaga ayahku. Baru satu atau dua hari, aku lupa tepatnya, kakakku yang ketiga menelpon dan mengatakan, “Dek, maapin bapak ya ….”. Setelah itu dia menangis dan melanjutkan kalimatnya “Bapak meninggal dek …..”. Kalimat terakhir membuatku termangu dalam kamarku, bathinku tersentak. Aku sangat sedih, tetapi bukan sedih karena wafatnya ayahku. Bukan, sekali lagi bukan. Aku sedih karena cita-citaku mewujudkan keinginan ayah untuk naik haji sirna dan memberinya menantu perempuan dan cucu dari keturunanku. Ayahku sudah memiliki tiga menantu dan enam orang cucu dari ketiga anak perempuannya. Namun, ayah selalu berharap dariku. Mungkin karena dia termasuk penganut paham “keturunan dilanjutkan dari anak laki-laki”.
Pasti kalian bertanya mengapa aku tidak bersedih atas wafatnya ayahku dan menganggap aku anak yang durhaka. Aku tidak tahu apa aku anak yang durhaka atau tidak, bagiku kehidupan dan kematian adalah hal yang biasa. Manusia lahir dan menjalani kehidupan lalu mati, yang membedakan kita satu sama lain adalah apa yang kita lakukan saat masih hidup. Temanku pernah bertanya, “Kenapa kamu nggak sedih, padahal baru kehilangan ayahmu.” Aku menjawab, “Apakah ayahku akan senang jika melihat aku bersedih. Yang penting bagaimana aku dapat membela nama baiknya dan melindungi ibuku".
Setelah ayah wafat ibuku tinggal sendiri di rumah, oleh karena itu aku berusaha membujuk keluargaku agar mau tinggal bersama ibuku. Kebetulan dia setuju, karena akan kuliah sambil bekerja dengan ibuku sebagai asistennya. Kebetulan ibuku punya usaha tata rias pengantin. Hanya ibuku, hartaku yang paling berharga.
Saat teman-teman liburan ke Singapura, aku lebih memilih liburan ke Pontianak mengunjungi ibuku. Saat ditanya temanku kenapa tidak mau ke Singapura, aku selalu menjawab, “ Mana lebih mahal liburan ke Singapura atau ke Pontianak ?”. Jawaban yang membuat mereka kesal, tentu saja bukan itu alasannya.
Tak selang berapa lama ada kabar dari ibuku bahwa ada cara agar ayahku tetap naik haji, yaitu dengan mendanai sesorang yang sudah naik haji (tidak dijelaskan siapa) untuk berhaji atas nama ayahku. Tanpa pikir panjang apakah cara seperti itu benar atau tidak, aku langsung mengiyakan karena aku berharap hal tersebut sebagai penebus kegagalanku memberangkatkan ayahku ke Mekkah. Setelah lebaran haji lewat dan para jemaah kembali ke tanah air, ibuku mendapatkan sertifikat atas nama ayahku yang menunjukkan ayahku sudah naik haji. Lagi-lagi aku tidak ambil pusing dengan hal tersebut, bagiku ayah sudah menunaikan haji itu saja.
Setahun kemudian telah tersedia dana yang cukup untuk memberangkatkan ibuku naik haji, temanku menyarankan agar aku menemani ibuku naik haji. Aku hanya tertegun, karena dana tersebut hanya cukup untuk memberangkatkan satu orang itupun hanya ONH biasa. Masalah muncul karena ternyata ibuku terlambat mendaftar sehingga tidak mendapatkan nomor keberangkatan. Namun atas kebesaran Allah ibuku jadi juga berangkat ke tanah suci.
Ibuku berangkat dengan temannya yang juga seorang janda serta sepasang suami istri yang merupakan tetanggaku. Kebetulan tempat keberangkatannya di Batam, sehingga aku bisa menjenguknya sebentar walaupun hanya sempat mengisikan pulsa HPnya saja. Kebetulan sebelum keberangkatan calon jemaah haji tidak diijinkan dijenguk dan keluar.
Saat ibuku masih di tanah suci, kakak ketigaku sibuk mencari oleh-oleh haji di Tanah Abang agar ibuku fokus beribadah tanpa memikirkan oleh-oleh. Ibuku kembali ke tanah air melalui Bandara Hang Nadim, Batam. Kesempatan satu malam sebelum pulang ke Pontianak, aku gunakan untuk membawa ibuku mengunjungi Mall Nagoya Hill dan tempat kos-ku, di Rumah Susun Bumi Lancang Kuning, Batu Ampar, Batam.
Begitulah, sekarang hanya tinggal ibuku tempatku berbakti karena ayah telah tiada. Pernah suatu ketika aku mendengarkan ceramah di televisi bahwa keluarga kita yang telah wafat menunggu kita mendoakannya selesai kita sholat. Mendengar ini aku langsung menangis, karena aku sering lupa mendoakan ayahku. Bahkan aku menulis sebuah puisi untuk mencurahkah rasa penyesalanku ....
Maafkan aku yang selalu lupa
Menyebut mu dalam setiap doaku
Melupakan mu dalam setiap waktuku
Tak perdulikan semua nasehatmu
Tuhan ampunilah hambaMu ini
HambaMu yang sering kali lupa
Mengabaikan dia yang menyayangi ku
Melupakan dia yang mengasihi ku
Tuhan kupanjatkan doa pada Mu
Dengan dua tangan menengadah
Doa untuk dia yang menyayangi ku
Doa untuk dia yang mengasihi ku
Ampunilah segala dosa-dosanya
Berikanlah dia perlindunganmu
Jauhkan dia dari azab dan siksaMu
Tempatkanlah dia di surgaMu
Amiiiin ….
Sejak saat itu aku tidak lupa berdoa untuk keduanya, doa yang begitu dalam disertai derai air mata. Mungkin kalian akan mengatakan bahwa aku cengeng, aku tak peduli. Yang pasti aku menyayangi kedua orang tuaku.
Aku bertekad membahagiakan ibuku, hartaku satu-satunya yang paling berharga.
Aku ingat dia selalu bercerita bahwa saat mengandungku dia ngidam kurma dan menyelesaikan banyak tersisa tiga yaitu yang bergambar bunga mawar, kastil, dan dua bocah laki-laki dan perempuan yang saat aku kecil selalu kuanggap bahwa aku bocah laki-laki tersebut. Lalu siapa bocah perempuannya, aku belum tahu.
Mamah Dedeh pernah berkata, “Anak perempuan akan menjadi milik suaminya jika ia sudah menikah, akan tetapi anak laki-laki tetap akan menjadi milik ibunya walaupun dia sudah menikah”. Kalimat itu tertanam dalam di benakku , ya aku akan berusa melakukan yang terbaik bagi ibuku.
Ibuku seorang ibu rumah tangga dan seorang wiraswasta yang gigih walaupun tidak mengenyam pendidikan yang tinggi namun selalu berusaha menekuni keterampilan seperti menjahit dan tata rias pengantin. Ia selalu memliki cita-cita dan harapan yang tinggi padaku, walaupun kadang aku merasa heran kenapa selalu aku, kenapa bukan ketiga kakakku. Mungkin jawabannya klasik karena aku anak laki-laki satu-satunya.
Kalimatnya yang paling aku ingat adalah saat mengatakan, “Ibu pasti bangga ngeliat kamu kerja di disana”. Saat itu dia berusaha membujukku berhenti kerja dari tempat bekerjaku yang pertama karena sering pulang malam, kemudian mendaftar di tempatku bekerja sekarang.
Sebenarnya aku sangat suka bekerja ditempat kerjaku yang lama, mungkin karena merupakan tempat kerjaku yang pertama. Walaupun gaji yang kuterima tidak besar, namun aku bahagia dengan pekerjaan tersebut. Bahkan bujuk rayu dari ketiga kakakku tidak sedikit pun menggoyahkan pendirianku. Namun, satu kalimat dari ibuku bisa mengubah semuanya. Hanya satu kalimat, kalimat pengharapan dari ibuku.
Setelah mengiyakan keinginan ibuku, aku mendaftar pekerjaan di tempat baru dengan segera mungkin membuat surat pernyataan pengunduran diri dari tempatku bekerja. Saat itu ayahku masih hidup, ia tak pernah mendesakku untuk pindah kerja karena ia selalu yakin padaku. Tidak seperti ibuku yang selalu mengkhawatirkan nasib pangeran kecilnya.
Tahap demi tahap ku lalui, setiap tahap yang kulalui selalu menambah beban dihatiku bahwa aku harus lulus. Setiap tahap yang kulalui menambah besar harapan orang tuaku terutama ibuku dan hal tersebut seperti gunung yang menghimpit pundakku. Saat pengumuman terakhir tiba, tak lama kakakku yang pertama menelpon dan berkata, “Dek, loe nggak lulus ….”. Sebuah palu godam menghantam kepalaku, jantungku berdebar dan dalam hati aku berkata,”Alamak, matiii aku”.
Tak terbayang bagimana perasaanku saat itu, tiba-tiba kakakku melanjutkan kalimatnya, “Nggak, cuma becanda. Lulus kok ….”. Dasar kakakku, becandanya kebangetan banget. Tak lama kakak ketigaku menelpon memberitakan kelulusanku dengan suara yang penuh ceria dan menceritakan bahwa sejak subuh ayahku (saat itu berada di rumah kakakku di Bojongkulur) sudah sibuk mencari koran untuk melihat pengumuman. Hanya satu kalimat yang ayahku ucapkan, “Aku sih memang yakin kalo dia lulus”. Ibuku hanya mengucapkan bahwa ia bangga padaku, sedangkan kakak keduaku tersenyum bangga sambil berkata bahwa aku lulus berkat doanya, mungkin dia ada benarnya. Yang pasti kelulusanku disambut kegembiraan kami sekeluarga.
Setelah banyak kejadian masih tersisa harapan dari kedua orang tuaku yang belum dapat aku penuhi, yaitu seorang menantu perempuan dan cucu dari keturunanku. Banyak teman yang berkata aku terlalu pemilih terlalu pemalu dan sebagainya. Sebenarnya hanya satu alasan dari semua itu, aku ingin seorang istri pendamping hidup pilihan orang tuaku, khususnya ibuku.
Ayah tidak pernah mendesakku mengenai jodoh, berbeda dengan ibuku yang selalu menasehatiku mengenai hal yang satu ini. Ditambah dengan kompaknya kakak-kakakku yang menasehati adik laki-laki satu-satunya, karena mereka tidak ingin dengan masuknya satu anggota perempuan dalam keluarga akan merusak kebahagiaan keluarga.
Walaupun kadang aku pikir sedikit tidak adil, karena aku tidak pernah sedikit pun ikut campur saat mereka memilih suami. Ibuku memang selalu memberikanku pilihan, namun sifatnya tidak memaksa. Saat menonton film Get Married, aku sampai membayangkan bagaiman ibuku mencarikan jodoh buatku, apakah seperti dalam film tersebut.
Pasti kalian akan menyebutku “anak mami” setelah membaca hal ini, aku tak perduli. Bahkan aku bangga jika disebut demikian karena bagiku “anak mami” adalah anak yang sayang kepada ibunya. Walaupun sangat sayang kepada ibuku, aku tetaplah orang yang selalu cuek, sangat jarang aku menelpon ibuku. Saat melihat seorang ibu yang membawa anak laki-lakinya, aku teringat ibuku dan hal tersebut membuat mataku berkaca-kaca. Lagi-lagi aku menangis, sungguh anak yang cengeng.
Sebuah puisi kutulis untuk mengabadikan momen tersebut ....
Saat berbuka kulihat seorang ibu menggandeng kedua anaknya
Tubuhnya kecil sedikit kurus dengan pakaian yang sedikit lusuh
Kegembiraan terpancar saat bersenda gurau dengan anak-anaknya
Aku tersenyum melihatnya, luar biasa pikirku ….
Aku jadi teringat ibuku .…
Kuhitung seberapa sering aku mengingat ibuku, sungguh aku anak yang durhaka
Jarang sekali aku menelpon menanyakan keadaannya
Ibukulah yang sering menelpon menanyakan keadaanku
Saat pertama aku pergi merantau ….
Ibuku sering menangis mengkhawatirkan diriku ….
Sedangkan aku hanya asyik-asyikan menjalani kehidupan baruku ….
Maafkanlah aku ibu, maafkanlah anakmu ini ….
Tak terasa air mata berlinang di kedua pipiku ….
Cengeng ya, mungkin memang aku seperti itu
Kuingat-ingat lagi semakin banyak kerutan di wajah ibuku
Mungkin disebabkan karena sering mengkhawatirkan aku ….
Terima kasih ibu, atas semua kebaikan dan doamu ….
Maafkan aku yang belum bisa memenuhi semua harapanmu ….
Mungkin aku bukan anak yang baik, tapi aku akan berusaha sekuat tenaga membahagiakan ibuku dan membuat ayahku bangga di alam sana. Akulah bukti cinta kalian, dan akan kubuktikan cintaku kepada kalian.
0 komentar:
Posting Komentar